Archive for August, 2006

Pasuruan, we’re coming!!!

Thursday, August 17th, 2006

hari bersejarah buat anak-anak c15…

18 Agustus 2006

detik-detik keberangkatan mau ke Pasuruan -TC Goes To Village, red- harusnya sekarang sibuk-sibuknya, tapi aku malah ngeBlog… =D

tapi ndak papa wis, mengabadikan momen peNting apa salahnya…

selamat berjuang wahai kalian para pembela kebenaran…

lak yo mosok satria baja hitam!!!

whooaaahhhhmmmmmmmmm….

Thursday, August 17th, 2006

hanya satu kata:

NgAnTuKkkKKKkkkk….

udah jam 14.19 Waktu IBS, waktunya tidur siang, tapi apa daya, saya lagi di kampus. Pasti para pembaca yang budiman penasaran, kenapa saya ndak pulang aja? pengen tau bukan? bukaaannn…

Jadi begini ceritanya, tadi pagi jam 9an saya harus menghadiri pertemuan dengan teman-teman saya di kampus untuk membahas sesuatu yang urgent, emergency, penting, important, dan lain sebagainya. Lha, setelah bicara ngalor-ngidul tanpa arah dan tujuan dan akhirnya menemukan satu titik temu dimana telah disepakati oleh forum yang mana demikian sehingga terciptalah suatu keputusan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Nah, setelah itu, ada lagi pertemuan yang harus saya hadiri, ya ndak lebih dan ndak kurang jam 15.00. Dan kebetulan sekali bertempat di kampus saya tercinta. Nah, sudah tau kan masalahnya dimana? Saya yakin belum… =D

H minus 23 menit menuju pukul 15.00. Lanjuut….

Karena kalo udah di kos dan tubuh ini sudah lengket sama kasur, bantal plus guling, ibaratnya pecel lele sama lelenya, ndak bisa dipisah lagi. Lha ya itu… kenapa saya males balik ke kos. Ditambah dengan udara diluar sana yang tidak bersahabat, bisa membuat hitam dan kulit kering sekering keripik tempe yang dikeringkan dibawah sinar matahari yang kering… Dan untuk menetralisir, tanpa ditambah asam dan basa, mending ke IBS aja. Ngadem… dan justru membuat mata ini menjadi tinggal 5 watt… =( Sungguh malang kisah sedihku di hari proklamasi ini, mau tidur aja ndak bisa…

H minus 12 menit menuju pukul 15.00…

Nah, para pembaca yang saya cintai, saya rasa cukup sekian perjumpaan kita kali ini. Dan sebagi penutup, tak ada gading yang tak retak, tak ada rotan akarpun jadi, tak ada gajah tak berbelalai, tak ada kasur kursipun jadi, dan tak ada-tak ada yang lainnya. Sampai jumpa di lain kesempatan..

H minus 3 menit. Akhirnya…

3 kata: Proker, Proker dan… Proker

Monday, August 14th, 2006

Fiuh… udah H-10 pengkaderan. Gak nyangka kalo bisa "campur tangan" jugak di bidang yang satu ini. Yang dulu marah-marah tiap menghadiri acara "kuburan massal", tapi sekarang baru tau kenapa dulu digituin =D

Sekarang, saat ini,  menit ini, jam 21.40 WLP (baca: Waktu LabProg), belum juga bisa pulang. Mau ngerjain proposal, tapi bingung gimana mau ngerjainnya. Nah, pas buka friendster, jreng jreng jreng… ngeBlog ahh…

Berhubung para admin LabProg pada menghilang entah kemana, dan Netware "Mbak mahasiswi, udah jam 9 nih" gak ada, puas-puasin dah di LP sampek malem.

Tapi tapi tapi, ziiiing… krik krik krik… tiba-tiba papah Adam memberikan suatu pernyataan yang membahagiakan hati "Ya udah, kalian pulang aja. Biar aku aja yang ngerjain proposalnya." Walaupun dalam hati ini merasa kasian ngeliat papah ngerjain sendirian, tapi apa daya… ASEEEEEKKK… Pulang yuk pulang…

dan sekarang waktu menunjukkan pukul 21.52….

Kubingkai Gerimis…

Thursday, August 3rd, 2006

kubingkai gerimis, malam-malam ritmis, kata
berdepa-depa. seperti udara dingin yang menandai
rindu sekarat, keheningan adalah kawan paling
lekat saat kita bertukar isyarat. tiada tanda
hadirmu fana, cuma perih menuang duka, yang tertahan
di lengang kehampaan. ingin kuberlari dari kengerian
namun bayangmu selalu datang bagai kutukan

kau tertegun mendengar resahku. membasuh
gelisah namun tak juga usai sepimu. bila kau
genapkan malam yang pucat - ragumu pekat,
menuliskan sajak-sajak hidup
bagi musim yang ranum?

aku tetap menyimpan gerimis, kenangan-kenangan
manis, rindu berdepa-depa. memeluk keniskalaan
yang lebih perih dari luka, mendekap kesunyian
yang lebih getir dari duka

aku tetap disini

Thursday, August 3rd, 2006

Meski kau mengeja arah yang berbeda
pada kereta yang mengantarkanmu di stasiun terakhir
dan langkahmu pun semakin jauh
hilang dari pandangan
Tak terdengar lagi desahmu yang menggetarkan
atau selorohmu yang kadang membuatku gusar
igauan-igauanmu tentang dunia yang sempurna
dering ponsel yang dikecilkan, tawa yang tertahan
Aku tetap di sini.
Walau harus kuteriakkan namamu beribu kali
mungkin lebih, mungkin tak terhitung
mungkin sebanyak tarikan nafas yang kuhembuskan
atau sebanyak kedipan mata, atau detak jantung
yang membuatku masih bernyawa
meski tak tersampaikan semua kepadamu
Hanya namamu yang tertinggal
dan kenangan-kenangan manis
bahkan bila kau tiada
dan takkan pernah kembali.
Aku tetap di sini.

-Mahanani Burhan-

perempuan yang bernama senja

Thursday, August 3rd, 2006

perempuan yang bernama senja
memelihara sunyi dalam kepekatan mata
kemilau rambutnya, warnai luka

cahaya mentari sejuk membelai halus wajahnya

perempuan yang bernama senja
menyimpan sunyi untuk dirinya

-puisi Moyank-